GIGS REVIEW :





GIGS REVIEW :

a Launching AMUK MASSA compilation
Gedung wanita , 18 januari 2009 , 10.00 – 16.00 WIB
High lite : polisi, alcohol, total voicer, macho tough guy
Oleh : PURMEIDIANTO aka PRUE

Sejujurnya saya tidak benar tahu langsung kompilasi ini, tapi setidaknya 100 copy sudah sold out sebelum acara dimulai. Gedung wanita yang sudah lama sepi dari aktivitas gigs semenjak harga sewa yang selangit dan didominasi dipakai untuk budaya kesukaan pemerintah, kini mulai ramai lagi dengan sing along dan senyum serta komunikasi hangat antara beberapa scene besar yang sudah lama putus seperti kaligangsa berontak, balkot troops, dan benjaran rebel crew. Setidaknya itu semua mengingatkan semua yang dating akan masa emas gedung wanita dan Bank SUMMA pasca bentrok dengan preman setempat yang mengakibatkan banyak korban masuk rumah sakit. Yeah…sedikit catatan bagi kalian yang mungkin tidak mengalami masa indah kebersamaan BANK SUMMA dimana semua punk rocker / HC kids / skinhead berkumpul jadi satu dan kira-kira hampir berjumlah 200an aktivis yang bergabung dengan wacana yang cukup hot seputar anarcho, straight edge ataupun sekedar bertukar kaset.
Jam 12 sepertinya sudah sangat telat bagi saya untuk masuk venue karena harus terlewatkan beberapa band. Tapi untunglah saya ketemu dengan beberapa anak oldskool dari benjaran yang baru masuk. Rupanya oka cs masih punya energi untuk ikut andil dalam acara ini walaupun sepertinya massa mereka sudah hilang tertelan jaman mengingat mereka adalah salah satu pioneer HC dari benjaran.
Sampai didepan stage saya tertarik dengan sebuah band HC dari semarang yang sedikit berorasi tentang palestina sambil membentangkan kain bertuliskan "free Palestine" ternyata masih ada band HC jaman sekarang yang peduli dengan wacana seperti ini mengingat kebanyakan crowd yang datang adalah street punx.
Prediksi saya tentang adanya "macho tough guy" alias punk rocker dengan gaya preman terbukti juga. Tidak lama kemudian mosh pit yang tadinya penuh dengan punkrocker wajah baru berubah menjadi ajang tinju. Vokalis band yang sedang tampil meneriaki kelompok yang terlibat adu jotos dengan sebutan kampungan dan meneriakkan "punk is brother" berkali-kali. Alhasil polisi yang dari tadi hanya duduk didepan pintu masuk langsung merengsek masuk kearah stage dan mengambil microphone dan mengancam akan membubarkan acara jika masih ttage dan mengambil microphone dan mengancam akan membubarkan acara jika masih terjadi aksi adu jotos seperti tadi. Tapi entah kenapa pelaku perusak mood acara itu kebanyakan adalah punk rocker dari luar kota. Sepertinya mereka masih berpola pasifis dan mengangap scene mereka lebih besar dan bisa seenak jidat meninju para poseurs yang saya rasa punya potensi untuk mengembangkan punkrock di kemudian hari.
Jika kita mengaca pada apa yang terjadi di tahun 80an dimana disetiap showcase/concert fugazi Ian Mackaye selalu menghentikan meneruskan lagu mereka jika ada orang yang pogo serampangan dan bisa memicu perselisihan antar crowd. Kemudian ia menunjuk orang tersebut sambil bertanya apakah ia bisa bersikap lebih baik. Jika orang tersebut malah menunjukkan respon yang tidak kooperatif maka ian mackaye akan mengembalikan uang tiket yang sudah orang tersebut beli dan menyuruh orang tersebut meninggalkan venue.
Selain itu konsep no alcohol dalam sebuah gigs "pada awal jaman munculnya straight edge" spertinya ampuh untuk mereduksi (mengurangi ) terjadinya aksi macho tough guy. Karena saya yakin gig yang dibuat dengan dana kolektif itu mempunyai proses yang tidak gampang. Tapi sepertinya panitia harus selalu berjibaku untuk mengamankan acara secara extra. Saya yakin mereka butuh wacana untuk bisa mengevaluasi "what the essence to be punk" sebenarnya apa maknanya kita menjadi seorang punkrock.
Mungkin banyak diantara kalian merupakan akar punkrock itu sendiri dan lebih memilih untuk pada posisi aman sambil menunggu kesenangan datang. Tidak mau tahu tentag esensi menjadi seorang punks. Yang mereka tahu cuma "how to be a punk like" ( bagainmana menjadi seperti punk rock ) bukan bagaimana seharusnya seorang punk rock itu bersikap.
Kembali ke masalah gigs,ternyata tidak saja sampai disitu saja. Tidak lama kemudian terjadi rentetan adu jotos juga terjadi sehingga cukup membosankan saya. Bosan karena punk rock yang seharusnya movement value sebagai counter culture ( budaya tandingan ) tidak lebih dari sekedar wasting time dan pura-pura menjadi rockstar multiplatinum. Menyedihkan….
Sebuah ironi juga muncul ketika total voicer tampil. Stage yang memang cukup luas berubah menjadi ajang mosh pit hingga tidak bisa dibedakan mana personil total voicer. Ironi yang saya maksud adalah sepertinya misi punk rock itu sendiri sebagai alat untuk menyuarakan wacana malah kebanyakan tidak tertangkkap dengan baik oleh crowd. Beberapa koresponden yang saya temui menyatakan kalau mereka sama sekali tidak peduli dengan isi lirik lagu band yang tampil. Mereka lebih suka jika mosh pit ramai dan beat yang dimainkan kencang. Hal ini menandakan punk rock dengan band dan lagu sebagai alat movement TELAH GAGAL !!
Tapi diantara kegagalan tersebut, keberhasilan acara ini adalah panita berhasil menghidupkan komunikasi antar scene yang selama in terpecah pasca BANK SUMMA scene. Paling tidak panitia acara berhasil menyatukan generasi punk rock yang berbeda. Salut untuk kalian.. sepertinya semua scene bisa mencontoh proyek ini.

Tidak ada komentar: